Sabtu, 23 Februari 2008

Tips masa depan


Tips Memilih Pasangan Hidup

Manusia tidak dapat memilih siapa yang patut jadi ibu dan bapanya. Tetapi manusia masih ada ruang dan peluang untuk memilih siapa bakal pasangan hidupnya. Jika tidak boleh memilih, masakan ada pedoman agama dalam hal-hal yang harus dititik beratkan ketika pemilihan jodoh? Nabi SAW sendiri ada memberitahu kriteria atau petua dalam pemilihan pasangan hidup? Antara lain Nabi SAW bersabda: “Wanita itu dikahwini kerana dengan sebab hartanya, kecantikannya, keturunannya dan keagamaannya. Hendaklah kamu pilih yang kuat agamanya, tentu akan menenangkan kedua tanganmu.” – Riwayat Bukhari Muslim dan lain-lain. Memang benar bahawa jodoh dan pertemuan itu takdir ketentuan Allah. Namun ketentuan ini tidak menafikan usaha dan iktiar. Masakan dapat sagu jika tidak dipecahkan ruyungnya. Pemilihan bakal suami bagi seorang wanita adalah lebih kritikal sebenarnya. Jika tersilap pilih kerana terikutkan runtunan emosi semata-mata hingga melupakan pedoman syarak maka boleh membawa padah. Dibimbangi nanti pilihan suami tidak menyambung ke landasan utama jalan menuju syurga. Sebabnya suami sebenarnya ibarat ibusawat penghubung talian taat seorang isteri kepada Allah. Ia juga menjadi laluan turun cinta dan redha Allah SWT kepadanya. Begitu juga bagi lelaki. Jika tersilap pilih calon isteri maka besar juga risikonya. Ini disebabkan dia dipertanggungjawabkan sepenuhnya untuk memimpin seisi keluarga meniti jalan ke syurga. Kesefahaman dan kerjasama penuh daripada isterinya amat diperlukan untuk menjayakan tanggungjawab besar yang dipikulnya. Jika suami gagal mendidik dan memimpin keluarga, bukan sahaja anak isteri yang terhumban ke dalam neraka, bahkan dirinya sekali terikut sama. Di dalam Islam, wanita ada hak untuk memilih bakal suaminya. Tanggapan bahawa wanita tiada hak memilih bakal suaminya adalah salah. Dalam hal ini Abu Hurairah ra pernah mendengar Nabi SAW bersabda:”Seorang wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum ia diminta pertimbangan dan seorang gadis perawan tidak boleh dinikahkan sebelum ia diminta persetujuan.” – Riwayat Bukhari dan Muslim. Di dalam sejarah ada banyak kisah wanita mempertahankan hak memilih suami. Antaranya ialah kisah Khansa binti Khidam yang mengadu kepada Rasulullah SAW mahu dikahwinkan oleh bapanya, pada hal dia tidak suka. Rasulullah SAW telah menolak keinginan bapa Khansa. (Riwayat Bukhari). Dalam satu kisah lain yang diriwayatkan Bukhari, seorang bekas hamba bernama Barirah mempertahankan haknya tidak mahu berkahwin dengan Mughis meski pun disokong oleh Nabi SAW. Apabila ditanya oleh Nabi SAW, Barirah bertanya kembali: “Wahai Rasulullah, apakah ini perintah buatku?” Nabi SAW menjawab: “Aku sekadar memberi syafaat.” Lantas mendengarnya, Barirah menolak peminangan Mughis dan Rasulullah SAW menerima keputusannya. Malah ada berlaku dalam sejarah kisah wanita yang memilih lelaki (Rasulullah SAW) dan menawarkan diri untuk jadi isteri kepada baginda. Apabila wanita itu melihat Rasulullah SAW tidak memutuskan sesuatu terhadap tawarannya itu, lantas dia duduk - (Riwayat Bukhari Muslim). Diamnya Nabi SAW bererti tindakan wanita itu tidak dihalang. Begitu juga dengan wahyu yang masih turun waktu itu. Bahkan ada diterangkan di dalam kitab fekah; apabila pilihan wanita tidak mahu diterima oleh walinya maka ketika itu berpindahlah hak kewalian Wali Mujbir kepada Wali Hakim. Asalkan pilihannya itu benar berlandaskan pedoman syariat (di mana calon suami kufu seimbang agama dan mampu mengadakan mahar) maka bapanya perlu menurutinya. Jika dalam keadaan bapanya engkar maka gugurlah hak si bapa mewalikan anaknya. Menyedari tuntutan dan taruhan nikah dalam kehidupan maka sayugialah wanita menggunakan sebijak-bijaknya hak untuk memilih pasangan hidupnya. Jangan ambil mudah dan terburu nafsu membuat pilihan. Lebih-lebih lagi jangan membuat keputusan berdasarkan desakan persaingan atau bimbangkan apa orang lain kata. Maka seharusnya terlebih dahulu mencari jalan untuk memastikan bahawa bakal suami faham peranan dan tanggungjawabnya serta berpotensi menuntun ahli keluarganya ke syurga. Setelah merasa aman dan percaya terhadap pegangan agama dan hati budi calon suami maka terimalah pinangannya. Sehubungan ini Nabi SAW ada bersabda: “Apabila telah datang meminang lelaki yang dipercayai agamanya dan kejujurannya (amanah); maka terimalah pinangannya. Sebab jika pinangannya ditolak maka tunggulah terjadinya fitnah di bumi dan kerosakan yang besar.” – Riwayat Tirmizi

Artikel


ADAB BERBICARA,Mendengar,berdebat dalam Islam


Assalamua'laikum Warahmatullah Wbarakatuh.


1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalamhadits nabi SAW disebutkan:"Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklahberkata baik atau lebih baik diam." (HR Bukhari Muslim)


2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:"Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga biasdifahami oleh semua yang mendengar." (HR Abu Daud)


3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan sabda nabi SAW:"Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti dihari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara."Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui artiats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Makajawab nabi SAW: "Orang2 yang sombong." (HR Tirmidzi dan dihasankannya)


4. Menghindari banyak berbicara, karena kuatir membosankan yangmendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa'il:Adalah Ibnu Mas'ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, makaberkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas'ud)!Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas'ud :Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya akukuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikianpada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq'alaih)


5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwaadalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kalisehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAWmendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali.(HR Bukhari)


6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH SWTyang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatatoleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hariKiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWTyang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yangdemikian itu sampai hari Kiamat." (HR Tirmidzi dan ia berkata haditshasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)


7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW:"Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka,melainkan karena terlalu banyak berdebat." (HR Ahmad dan Tirmidzi)Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:"Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipunia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dustawalaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yangbaik akhlaqnya." (HR Abu Daud)


8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:"Bukanlah seorang mu'min jika suka mencela, mela'nat dan berkata-katakeji." (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)


9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:"Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelakialah orang yang suka membuat manusia tertawa." (HR Bukhari)


10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelaryang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:"Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanyaitu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya." (HR Abu Daud dan Tirmidzidan ia menghasankannya)


11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:"Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanjimengingkari dan jika diberi amanah ia khianat." (HR Bukhari)


12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:"Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci,dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kaliansaling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu denganyang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara." (HR Muttafaq'alaih)


13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dariAbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka katanabi SAW: "Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telahmencelakakan saudaramu!" (2 kali), lalu kata beliau SAW: "Jika adaseseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplahsi fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpundisisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya." (HR Muttafaq'alaih dan ini adalah lafzh Muslim)Dan dari Mujahid dari Abu Ma'mar berkata: Berdiri seseorang memujiseorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, makaMiqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, laluberkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajahorang yang gemar memuji. (HR Muslim)ADAB MENDENGAR


1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)


2. Tidak memotong/memutus pembicaraan


3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinyasepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)


4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjangbukan perkataan dosa.


5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicaraADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU


1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian


2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal


3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikansuara


4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih


5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit


6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelummengomentari yang salah


7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat


8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapatdilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi


9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawanbicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkanmenjadi fitnah bagi diri dan agamanya


10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, danmenghindari kebencian serta penyakit hati.


Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, 'alaihi tawakkaltu wa ilaihiuniib,


Wasalamaua'laikum Warahamtullah Wabarakatuh.