Senin, 23 Februari 2009

RESEP HIDUP BAHAGIA


*Disusun oleh: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar*

*Seandainya kita bertanya kepada orang-orang di sekeliling kita dari
berbagai agama, bangsa, profesi dan status sosial tentang cita-cita mereka
hidup di dunia ini tentu jawaban mereka sama "kami ingin bahagia". Bahagia
adalah keinginan dan cita-cita semua orang. Orang mukmin ingin bahagia
demikian juga orang kafir pun ingin bahagia. Orang yang berprofesi sebagai
pencuri pun ingin bahagia dengan profesinya. Melalui kegiatan menjual diri,
seorang pelacur pun ingin bahagia. Meskipun semua orang ingin bahagia,
mayoritas manusia tidak mengetahui bahagia yang sebenarnya dan tidak
mengetahui cara untuk meraihnya. Meskipun ada sebagian orang merasa gembira
dan suka cita saat hidup di dunia akan tetapi kecemasan, kegalauan dan
penyesalan itu merusak suka ria yang dirasakan. Sehingga sebagian orang
selalu merasakan kekhawatiran mengenai masa depan mereka. Terlebih lagi
ketakutan terhadap kematian.*

**

*Allah berfirman dalam surat Al Jumu'ah ayat 8:*

*"Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan
kepada yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu
apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al Jumu'ah: 8)*

*Banyak orang yang beranggapan bahwasanya orang-orang barat adalah
orang-orang yang hebat. Mereka beranggapan bahwasanya orang-orang barat
hidup penuh dengan kebahagiaan, ketenteraman dan ketenangan. Tetapi fakta
berbicara lain, realita di lapangan menunjukkan bahwa secara umum
orang-orang barat itu hidup penuh dengan penderitaan. Hal ini dikuatkan
dengan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh orang-orang barat
sendiri tentang kasus pembunuhan, bunuh diri dan berbagai tindakan kejahatan
yang lainnya, namun ada sekelompok manusia yang memahami hakikat kebahagiaan
bahkan mereka sudah menempuh jalan untuk mencapainya. Merekalah orang-orang
yang beriman kepada Allah. Mereka memandang kebahagiaan itu terdapat dalam
sikap taat kepada Allah dan mendapat ridho-Nya, menjalankan
perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.*

*Boleh jadi di antara mereka yang tidak memiliki kebutuhan pokoknya setiap
harinya, akan tetapi dia adalah seorang yang benar-benar bahagia dan
bergembira bagaikan pemilik dunia dan segala isinya.*

*Allah berfirman,*

*"Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu
mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya iti dari apa yang mereka
kumpulkan." (QS. Yunus: 58)*

*Jika mayoritas manusia kebingungan mengenai jalan yang harus ditempuh
menuju bahagiamaka
hal ini tidak pernah dialami oleh seorang mukmin. Bagi seorang mukmin
jalan kebahagiaan sudah terpampang jelas di hadapannya. Cita-cita agar
mendapatkan kebahagiaan terbesar mendorongnya untuk menghadapi beragam
kesulitan.*

*Terdapat berbagai keterangan dari wahyu Alloh sebagai kabar gembira bagi
orang-orang yang beriman bahwasanya dirinya sudah berada di atas jalan yang
benar dan tepat Allah berfirman:*

*"Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu
diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (QS. Al An'aam: 153)*

*Jika di antara kita yang bertanya bagaimanakah yang dirasakan bagi
orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka maka Allah sudah
memberikan jawaban dengan firman-Nya:*

*"Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di
dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), Mereka
kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu
menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa
yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di
dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali
jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada
putus-putusnya." (QS. Hud: 106-108)*

*Jika di antara kita yang bertanya-tanya bagaimanakah cara untuk menjadi
orang yang berbahagia, maka Alloh sudah memberikan jawabannya dengan
firman-Nya,*

ٌّ*"Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak
akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari
kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thoha: 123-124)*

*Dan juga dalam firman-Nya,*

*"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS.
An-Nahl: 97)*

*Kebahagiaan seorang mukmin semakin bertambah ketika dia semakin dekat
dengan Tuhannya, semakin ikhlas dan mengikuti petunjuk-Nya. Kebahagiaan
seorang mukmin semakin berkurang jika hal-hal di atas makin berkurang dari
dirinya.*

*Seorang mukmin sejati itu selalu merasakan ketenangan hati dan kenyamanan
jiwa. Dia menyadari bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengatur segala
sesuatu dengan kehendak-Nya.*

*Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,*

*"Sungguh menakjubkan keadaan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya seluruh
keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya.
Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman.
Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia akan bersyukur dan hal tersebut
merupakan kebaikan untuknya. Namun jika dia merasakan kesusahan maka dia
akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebaikan untuk dirinya." (HR.
Muslim dari Abu Hurairah)*

*Inilah yang merupakan puncak dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah suatu hal
yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa diukur dengan
angka-angka tertentu dan tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun dolar.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh seorang manusia dalam
dirinya. Hati yang tenang, dada yang lapang dan jiwa yang tidak dirundung
malang, itulah kebahagiaan. Bahagia itu muncul dari dalam diri seseorang dan
tidak bisa didatangkan dari luar.*

*[?]Tanda Kebahagiaan[?]*

*Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa tanda kebahagiaan itu ada 3 hal. 3 hal
tersebut adalah bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika
mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. Beliau
mengatakan: sesungguhnya 3 hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba
dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat. Seorang hamba sama
sekali tidak pernah bisa terlepas dari 3 hal tersebut:*

*1. Syukur ketika mendapatkan nikmat. [?]
*

*Seorang manusia selalu berada dalam nikmat-nikmat Allah. Meskipun demikian,
ternyata hanya orang berimanlah yang menyadari adanya nikmat-nikmat tersebut
dan merasa bahagia dengannya. Karena hanya merekalah yang mensyukuri nikmat,
mengakui adanya nikmat dan menyanjung Zat yang menganugerahkannya. Syukur
dibangun di atas 5 prinsip pokok:*

1. *Ketundukan orang yang bersyukur terhadap yang memberi nikmat.*
2. *Rasa cinta terhadap yang memberi nikmat.*
3. *Mengakui adanya nikmat yang diberikan.*
4. *Memuji orang yang memberi nikmat karena nikmat yang dia berikan.*
5. *Tidak menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak disukai
oleh yang memberi nikmat.*

*Siapa saja yang menjalankan lima prinsip di atas akan merasakan kebahagiaan
di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika lima prinsip di atas tidak
dilaksanakan dengan sempurna maka akan menyebabkan kesengsaraan selamanya.*

*2. Sabar ketika mendapat cobaan. [?]
*

*Dalam hidup ini di samping ada nikmat yang harus disyukuri, juga ada
berbagai ujian dari Allah dan kita wajib bersabar ketika menghadapinya. Ada
tiga rukun sabar yang harus dipenuhi supaya kita bisa disebut orang yang
benar-benar bersabar.*

1. *Menahan hati untuk tidak merasa marah terhadap ketentuan Allah.*
2. *Menahan lisan untuk tidak mengadu kepada makhluk.*
3. *Menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak di
benarkan ketika terjadi musibah, seperti menampar pipi, merobek baju dan
sebagainya.*

*Inilah tiga rukun kesabaran, jika kita mampu melaksanakannya dengan benar
maka cobaan akan berubah menjadi sebuah kenikmatan.*

*3. Bertaubat ketika melakukan kesalahan. [?]
*

*Jika Allah menghendaki seorang hamba untuk mendapatkan kebahagiaan dan
keberuntungan di dunia dan akhirat, maka Allah akan memberikan taufik kepada
dirinya untuk bertaubat, merendahkan diri di hadapan-Nya dan mendekatkan
diri kepada Allah dengan berbagai kebaikan yang mampu untuk dilaksanakan.
Oleh karena itu, ada seorang ulama salaf mengatakan: "Ada seorang yang
berbuat maksiat tetapi malah menjadi sebab orang tersebut masuk surga. Ada
juga orang yang berbuat kebaikan namun menjadi sebab masuk neraka." Banyak
orang bertanya kepada beliau, bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?,
lantas beliau menjelaskan: "Ada seorang yang berbuat dosa, lalu dosa
tersebut selalu terbayang dalam benaknya. Dia selalu menangis, menyesal dan
malu kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Hatinya selalu sedih karena
memikirkan dosa-dosa tersebut. Dosa seperti inilah yang menyebabkan
seseorang mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Dosa seperti itu lebih
bermanfaat dari berbagai bentuk ketaatan, Karena dosa tersebut menimbulkan
berbagai hal yang menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba.
Sebaliknya ada juga yang berbuat kebaikan, akan tetapi kebaikan ini selalu
dia sebut-sebut di hadapan Allah. Orang tersebut akhirnya menjadi sombong
dan mengagumi dirinya sendiri disebabkan kebaikan yang dia lakukan. Orang
tersebut selalu mengatakan 'saya sudah berbuat demikian dan demikian'.
Ternyata kebaikan yang dia kerjakan menyebabkan timbulnya 'ujub, sombong,
membanggakan diri dan merendahkan orang lain. Hal-hal ini merupakan sebab
kesengsaraan seorang hamba. Jika Allah masih menginginkan kebaikan orang
tersebut, maka Allah akan memberikan cobaan kepada orang tersebut untuk
menghilangkan kesombongan yang ada pada dirinya. Sebaliknya, jika Allah
tidak menghendaki kebaikan pada orang tersebut, maka Allah biarkan orang
tersebut terus menerus pada kesombongan dan 'ujub. Jika ini terjadi, maka
kehancuran sudah berada di hadapan mata."*

*Al Hasan al-Bashri mengatakan, "Carilah kenikmatan dan kebahagiaan dalam
tiga hal, dalam sholat, berzikir dan membaca Al Quran, jika kalian dapatkan
maka itulah yang diinginkan, jika tidak kalian dapatkan dalam tiga hal itu
maka sadarilah bahwa pintu kebahagiaan sudah tertutup bagimu."*

*Malik bin Dinar mengatakan, "Tidak ada kelezatan selezat mengingat Allah."*

*Ada ulama salaf yang mengatakan, "Pada malam hari orang-orang gemar sholat
malam itu merasakan kelezatan yang lebih daripada kelezatan yang dirasakan
oleh orang yang bergelimang dalam hal yang sia-sia. Seandainya bukan karena
adanya waktu malam tentu aku tidak ingin hidup lebih lama di dunia ini."*

*Ulama' salaf yang lain mengatakan, "Aku berusaha memaksa diriku untuk bisa
sholat malam selama setahun lamanya dan aku bisa melihat usahaku ini yaitu
mudah bangun malam selama 20 tahun lamanya."*

*Ulama salaf yang lain mengatakan, "Sejak 40 tahun lamanya aku merasakan
tidak ada yang mengganggu perasaanku melainkan berakhirnya waktu malam
dengan terbitnya fajar."*

*Ibrahim bin Adham mengatakan, "Seandainya para raja dan para pangeran
mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu mereka akan berusaha
merebutnya dari kami dengan memukuli kami dengan pedang." Ada ulama salaf
yang lain mengatakan, "Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku,
sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu
mereka dalam kehidupan yang menyenangkan."*

*Imam Ibnul Qoyyim bercerita bahwa, "Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
mengatakan: 'Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum
pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga diakhirat kelak.'"
Wallahu a'laam.*

(Diterjemahkan dengan bebas dari *As Sa'adah, Haqiqatuha shuwaruha wa asbabu
tah-shiliha*, cet. Dar. Al Wathan)

(Makalah Studi Islam Intensif)

***
www.muslim.or.id