Sabtu, 25 April 2009

MENGATASI/PERSIAPAN SEBELUM, SAAT, SETELAH TERJADINYA KEBAKARAN, GEMPA BUMI DAN VANDALISME PADA BAHAN PERPUSTAKAAN


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Bahan pustaka terdiri dari beberapa komponen antara lain: kertas, tinta dan komponen-komponen untuk menjilid buku-buku seperti kertas karton, plastik, tekstil, benang, paku, dan perekat. Umumnya komponen-komponen yang digunakan untuk bahan pustaka tersebut di atas kurang mendukung dalam upaya pelestariannya karena kertas, karton dan perekat mengandung asam.
Menyimpan dan memelihara bahan pustaka harus dilakukan dalam kondisi yang baik, yang merupakan syarat terpenting untuk mencegah kerusakannya. Pustakawan harus memperhatikan faktor-faktor keamanan, termasuk di dalamnya tindakan dan langkah-langkah untuk menghadapi kerusakan yang disebabkan oleh adanya bencana alam dan musibah.
Perencanaan pencegahan yang efektif untuk menghadapi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan ataupun tidak diduga sebelumnya perlu diawali dengan memasukkan persyaratan yang sesuai dengan kondisi dan spesifikasi yang ideal untuk sebuah perpustakaan dengan memperhatikan unsur keamanan tersebut.
Bencana alam seperti gempa bumi dapat mengakibatkan kerusakan koleksi bahan pustaka dalam jumlah yang besar dan waktu relatif singkat, karena bencana alam sukar diperkirakan datangnya.

B. Deskripsi Singkat
Makalah ini menguraikan hal Mengatasi Masalah/Persiapan Sebelum, Saat, Setelah Terjadinya Kebakaran, Gempa Bumi dan Vandalisme Pada Bahan Perpustakaan

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Memahami bagaimana peran Pustakawan dalam mengantisipasi dan mengatasi terjadi berbagai masalah yang ditimbulkan oleh alam dan manusia.
2. Mengupayakan agar bahan pustaka terhidar dari berbagai gangguan serta serangan baik yang diakibatkan oleh alam dan manusia maka makalah ini menguraikan bagaimana cara mengantisipasi, memperbaiki dan melakukan prosedur manajemen tanggap bahaya kebakaran, gempa bumi, dan Vandalisme.

BAB II
PEMBAHASAN


a. Ruang lingkup pembahasan.

Di lingkungan perpustakaan, arsip dan museum belum ada kesepakatan dalam menafsirkan istilah pelestarian (preservation). Perbedaan ini dapat dilihat dalam beberapa buku yang membahas berbagai definisi mengenai pelestarian atau preservasi. Dalam The Principles for The Preservation and Conservation of Library Materials yang disusun oleh J.M. Dureau dan D.W.G. Clements, preservasi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu mencakup unsur-unsur pengelolaan keuangan, cara penyimpanan, tenaga, teknik dan metode untuk melestarikan informasi dan bentuk fisik bahan pustaka. Sedangkan definisi lain menurut Introduction to Conservation, terbitan UNESCO tahun 1979 disebutkan bahwa istilah preservasi berarti penanganan yang berhubungan langsung dengan benda, kerusakan oleh karena udara lembab, faktor kimiawi, serangan dari mikroorganisme yang harus dihentikan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut (Perpustakaan Nasional, 1995:2). Menurut Hazen sebagaimana dikutip oleh Gardjito (1991:91), istilah pelestarian meliputi 3 ragam kegiatan, yaitu:”
Kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk mengontrol lingkungan perpustakaan agar dapat memenuhi syarat-syarat pelestarian bahan-bahan pustaka yang tersimpan di dalamnya;
Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk memperpanjang umur bahan pustaka, misalnya dengan cara deasidifikasi, restorasi, atau penjilidan ulang; dan
Seluruh kegiatan yang berkaitan dengan usaha untuk mengalihkan isi informasi dari satu bentuk format atau matrik ke bentuk lain. Setiap kegiatan menurut kategori-kategori tersebut itu tentu saja masih dapat dikembangkan lagi ke dalam berbagai aktivitas lain yang lebih khusus dan rinci”.
The American Heritage Dictionary mendefinisikan preservasi sebagai usaha untuk melindungi dari segala macam kerusakan, resiko dan bahaya lainnya, menjaga agar tetap utuh dan menyiapkan sesuatu untuk melindungi dari kehancuran. Sedangkan pengertian pelestarian bahan pustaka yang dikemukakan oleh International of Federation Library Association (IFLA) dan ditetapkan sebagai pedoman pelestarian oleh Perpustakaan Nasional Indonesia, mencakup 3 aspek, yaitu:”
Semua aspek usaha untuk melestarikan bahan-bahan, cara-cara untuk pengelolaan, keuangan, sumberdaya manusia pelaksananya, metode, dan teknik-teknik penyimpanan bahan-bahan pustaka;
Semua kebijakan dan kegiatan yang bersangkutan dengan pengawetan atau konservasi, yaitu cara-cara khusus untuk melindungi bahan-bahan pustaka demi kelestarian bahan-bahan pustaka tersebut;
Semua langkah untuk mempertimbangkan dan melaksanakan pemugaran atau restorasi, yaitu cara-cara yang digunakan untuk memperbaiki bahan-bahan pustaka yang rusak (Soedarsono, 1989) dan Sulistyo Basuki (1991)”.

b. Kendala Pelestariaan Bahan Pustaka yang Disebabkan Musibah, Bencana Alam dan Faktor Manusia.

Kerusakan fisik bahan pustaka, terutama yang terbuat dari bahan kertas telah menjadi suatu fenomena kepustakawanan. Skala kerusakan yang besar terjadi disebagian besar koleksi perpustakaan dan dialami oleh hampir semua perpustakaan di dunia mengisyaratkan bahwa masalah ini kini menjadi masalah kepustakawanan professional. Kerusakan yang terjadi pada bahan pustaka dipengaruhi oleh lingkungan penyimpanan yang tidak memenuhi syarat, penanganan yang salah, dan dari bahan pustaka itu sendiri.
Satu dari beberapa pendapat menyatakan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan kerusakan bahan pustaka, yaitu faktor fisika, kimia, biota. Ketiga faktor tersebut dapat secara sendiri-sendiri merusak bahan pustaka, tetapi dapat juga secara simultan sehingga sulit untuk mendeteksi dengan pasti penyebab kerusakannya. Dalam kegiatan pelestarian bahan pustaka, pengetahuan jenis bahan, penyebab kerusakan, dan tingkat kerusakannya sangat diperlukan untuk menetapkan bahan dan metoda penanganan yang tepat.

1. Kebakaran
Kebakaran adalah suatu peristiwa terjadinya pembakaran yang sifatnya selalu merugikan dan sulit untuk dikendalikan. Api merupakan bahaya utama, sehingga banyak koleksi bahan pustaka berharga rusak berat atau musnah karena api.
Pustakawan harus memperhatikan faktor-faktor keamanan, termasuk di dalamnya tindakan dan langkah-langkah untuk menghadapi kerusakan yang disebabkan oleh adanya bencana alam dan musibah lain seperti api, air/banjir, perang, pencurian dan sebagainya.
Salahsatu kegiatan Perencanaan Kesiapan Menghadapi Bencana adalah mempersiapkan peralatan untuk mencegah terjadinya kebakaran dan mempersiapkan tim khusus serta melatih mereka mempergunakan alat-alat tersebut jika diperlukan dalam keadaan darurat.

1.1. Persiapan dalam Mencegah Kebakaran
Kebakaran dapat memusnahkan kertas dalam waktu yang sangat singkat. Oleh sebab itu kita harus menjaga agar kebakaran jangan sampai terjadi. Tindakan preventif untuk mencegah kebakaran adalah:
- Kabel listrik harus diperiksa secara berkala.
- Bahan yang mudah terbakar seperti varnish dan bahan-bahan kimia yang mudah menguap harus diletakkan di luar bangunan utama.
- Merokok dilarang keras dalam ruangan, gudang atau ruangan pengepakan.
- Alaram seperti smoke detector harus dipasang pada tempat-tempat yang strategis untuk mengetahui dengan cepat adanya kebakaran. Berfungsinya alarm harus diperiksa secara berkala dan ditest.
- Alat pemadam api harus diletakan pada tempat yang mudah dijangkau. Alat pemadam api ini harus diisi kembali kalau sudah habis masa berlakunya. Pemadam api yang baik untuk ruangan yang di dalamnya terdapat benda-benda organik seperti kertas adalah tipe pemadam api kering seperti CO2.

1.2. Saat Menghadapi Kebakaran
Disaat seperti itu keadaan akan menjadi tegang/panik sehingga apa yang harus dilakukan kadang-kadang menjadi lupa, tapi bagi seorang pustakawan yang telah terlatih akan hal-hal yang harus dilakukan disaat terjadi kebakaran harus selalu siap dengan prosedur yang telah ditetapkan guna penyelamatan bahan pustaka di antaranya dengan cara :
- Melakukan pemadaman listrik gedung tersebut.
- Mengevakuasi pengunjung.
- Melakukan penyemprotan dengan menggunakan tabung pemadam kebakaran yang telah disediakan.
- Melaporkan kepada dinas kebakaran setempat.

1.3. Setelah Kejadian Kebakaran
Langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan bahan pustaka yang rusak akibat kebakaran adalah:
- Menyusun rencana program konservasi untuk menentukan rencana pelestarian jangka panjang bagi bahan pustaka yang telah rusak.
- Mengumpulkan para konservator senior yang menguasai langkah-langkah pemulihan.
- Menyusun perkiraan biaya untuk kegiatan pemulihan.
- Mengklasifikasi bahan pustaka yang akan ditempatkan kembali.
- Menyusun Tim Khusus tanggap bahaya.

2. Gempa Bumi
Bencana alam atau gempa bumi sulit diramalkan datangnya, sehingga pustakawan harus memikirkan situasi tak terduga yang tidak diinginkan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan.

2.1. Persiapan dalam Menghadapi Gempa
Langkah-langkah yang harus dilakukan antara lain:
- Merencanakan disain arsitektural gedung perpustakaan yang kuat.
- Perlu merencanakan pemindahan koleksi perpustakaan ke tempat yang lebih aman.
- Membekali petugas pustaka dengan pelatihan penanggulangan bencana.




2.2. Saat Menghadapi Gempa
Langkah-langkah yang harus dilakukan antara lain:
- Menghidupkan alarm tanda bahaya.
- Mengevakuasi pengunjung untuk keluar gedung perpustakaan.
- Memperkirakan derajat kerusakan.

2.3. Setelah Kejadian Gempa
Langkah-langkah yang harus dilakukan antara lain:
- Pemulihan kembali bahan pustaka yang sudah rusak.
- Menyusun program konservasi untuk menentukan rencana pelestarian jangka panjang.
- Mengumpulkan konservator senior yang menguasai langkah-langkah pemulihan.
- Menyusun perkiraan biaya untuk kegiatan pemulihan.
- Mengklasifikasi bahan pustaka yang akan ditempatkan kembali.
- Memisahkan bahan pustaka yang memerlukan konservasi lebih lanjut dengan bahan pustaka yang masih baik.

3. Vandalisme

Vandalisme adalah pencurian, penambahan, penghapusan, atau pengubahan isi yang secara sengaja dilakukan untuk mengurangi kualitas bahan pustaka dan ensiklopedia. Jenis vandalisme yang paling umum adalah mencuri koleksi perpustakaan, mengganti tulisan yang ada dengan hal-hal yang menyebalkan, mengosongkan halaman, atau menyisipkan lelucon yang konyol dan hal-hal yang tak berguna lainnya.

3.1. Persiapan dalam Menghadapi Vandalisme
Langkah-langkah persiapan yang harus dilakukan diantaranya:
- Perencanan gedung.
- Mekanisme pelayanan
- Membedakan antara staf dengan pengunjung
- Pengunjung dilarang membawa mantel, tas, dan diperiksa pada pintu keluar.
- Memasang password kunjungan pada layanan blog, wikipedia, ensklopedia.
- Menyerahkan pengolehan layanan online tersebut kepada ahli di bidang IT atau kepada staf yang diberi pelatihan khusus masalah IT.
- Menjaga Keamanan ruangan gedung.

3.2. Saat Menghadapi Vandalisme
Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:
- Melakukan penyelidikan.
- Memperketat keamanan.
- Melakukan pengecekan terhadap bahan pustaka secara periodik dalam rak dan ruangan.
- Melakukan patroli keamanan setiap waktu pada gedung perpustakaan.

3.3. Setelah Kejadian Vandalisme
Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:
- Melakukan perbaikan sistem keamanan.
- Melakukan koordinasi kepada staf dan seluruh pustakawan.
- Menyusun peraturan yang lebih bersifat keras dalam arti untuk memperkecil tindakan Vandalisme tersebut.

BAB III
PENUTUP


a. Kesimpulan

Dengan demikian untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi bencana alam maupun musibah lain yang mungkin saja bisa terjadi, pustakawan perlu memikirkan atau merencanakan prosedur darurat untuk menghadapi bahaya-bahaya potensial tersebut. Langkah-langkah penting yang harus dilakukan antara lain: alarm, memanggil petugas bencana, memanggil staf perpustakaan, menaksir derajat kerusakan, menentukan langkah dan tindakan yang harus diambil setiap pemindahan, perawatan dan perbaikannya, tim pembantu dan merapikan bahan pustaka dan meyakinkan bahan pustaka yang rusak akan ditangani staf pelestarian yang terlatih. Rencana-rencana tersebut hendaknya dibarengi dengan peraturan komunikasi yang darurat, buku pedoman yang tepat dan pelatihan staf. Bila mungkin dapat dibuat duplikat bahan pustaka berharga dan langkah, khususnya dapat dibuat dan disimpan ditempat yang lebih aman.

b. Saran

Diharapkan makalah ini memberikan petunjuk kepada pustakawan dan pengguna jasa perpustakaan agar senantiasa dapat memelihara bahan pustaka sebaik mungkin untuk perkembangan dan kelangsungan perkembangan informasi ilmu pengetahuan untuk kedepan.

DAFTAR PUSTAKA:


Dureau, J.M. dan D.W.G. (1990). Clements. Dasar-dasar pelestarian dan pengawetan bahan-bahan pustaka. Jakarta : Perpustakaan Nasional.

Gardjito. (1991). Preservation and Conservation of library materials in tropical countries with particular reference to the National Library of Indonesia. Tesis untuk memperoleh gelar master bidang Library Science di Loughborough University.

Martoatmodjo, karmidi. (1993). Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka.

Perpustakaan Nasional. (1992). Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 11 Tahun 1989 tentang Perpustakaan Nasional. Jakarta : Perpustakaan Nasional.

Sudarsono, B. (2006). Antologi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta: Ikatan Pustakawan Indonesia.

Sulistyo-Basuki. (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Wikipedia :Vandalisme Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Vandalisme#Templat_peringatan

Sabtu, 04 April 2009

Pelestarian Bahan Pustaka


Pengantar, Tujuan dan Fungsi Pelestarian

Bahan pustaka adalah salah satu unsur penting dalam sebuah sistem perpustakaan, sehingga harus dilestarikan mengingat nilainya yang mahal. Bahan pustaka di sini berupa terbitan buku, berkala (surat kabar dan majalah), dan bahan audiovisual seperti audio kaset, video, slide dan sebagainya.

Pelestarian bahan pustaka tidak hanya menyangkut pelestarian dalam bidang fisik, tetapi juga pelestarian dalam bidang informasi yang terkandung di dalamnya.

Maksud pelestarian ialah mengusahakan agar bahan pustaka yang kita kerjakan tidak cepat mengalami kerusakan. Bahan pustaka yang mahal, diusahakan agar awet, bisa dipakai lebih lama dan bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan.


Tujuan pelestarian bahan pustaka dapat disimpulkan sebagai berikut:

menyelamatkan nilai informasi dokumen

menyelamatkan fisik dokumen

mengatasi kendala kekurangan ruang

mempercepat perolehan informasi

Pelestarian bahan pustaka memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

melindungi

pengawetan

kesehatan

pendidikan

kesabaran

sosial

ekonomi

keindahan

Berbagai unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pelestarian bahan pustaka adalah: Berbagai unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pelestarian bahan pustaka adalah:

manajemen

tenaga yang merawat bahan pustaka

laboratorium

dana

Sejarah Bahan Pustaka dan Cara Perawatannya

Bahan pustaka terdiri atas berbagai jenis dan bermacam sifat yang dimilikinya. Dari sejarahnya, manusia menggunakan berbagai medium untuk merekam hasil karya mereka. Bahan yang dipergunakan sesuai dengan pengetahuan manusia serta teknologi pada zamannya.

Bahan yang dikenal sebagai medium perekam hasil budaya manusia adalah:
(1) tanah liat,
(2) papyrus,
(3) kulit kayu,
(4) daun tal atau lontar,
(5) kayu,
(6) gading,
(7) tulang,
(8) batu,
(9) logam (metal),
(10) kulit binatang,
(11) pergamen (parchmental) dan vellum,
(12) leather (kulit),
(13) kertas,
(14) papan,
(15) film,
(16) pita magnetik,
(17) disket,
(18) video disk dan lain-lain.

Semua bahan di atas bisa digolongkan sebagai bahan pustaka.

Pustakaan dewasa ini terbuat dari kertas. Sedangkan di masa mendatang mungkin isi sebuah perpustakaan berupa kumpulan disket, karena teknologi komputer memungkinkan demikian.



Kertas bisa dibuat dari berbagai serat yaitu:

serat binatang

serat bahan mineral

serat sintetis

serat keramik

serat tumbuh-tumbuhan.

Kekuatan kertas tergantung dari kekuatan serat sebagai bahan dasarnya.

Bahan pustaka yang lain ialah bahan non-buku yang juga disebut bahan audiovisual, media teknologi, alat peraga dan sebagainya. Materi bahan non-buku begitu bervariasi. Karena itu dalam memelihara bahan non-buku diperlukan berbagai keahlian dan keterampilan khusus. Kita harus memahami apa yang disebut dengan hardware atau perangkat keras dan software atau perangkat lunak. Harus kita fahami cara meng-operasikan peralatan, cara memperbaiki kalau ada kerusakan, dan bisa memeliharanya sehingga bahan-bahan tersebut awet dan lestari.

Macam Perusak Bahan Pustaka

Selain manusia dan hewan, debu, jamur, zat kimia dan alam semesta juga bisa merusak bahan pustaka. Agar bahan pustaka tidak lekas rusak, setiap pustakawan harus mengetahui cara-cara merawat bahan pustaka. Karena itu, setiap pustakawan hendaknya mengetahui cara menyusun kembali dan mengangkut buku untuk dikembalikan ke rak, cara mengontrol buku yang dikembalikan oleh pembaca apakah pembaca merusakkan buku atau tidak. Mencegah masuknya binatang mengerat dan serangga ke perpustakaan juga merupakan hal penting yang harus diketahui seorang pustakawan. Begitu pula cara menghindari debu masuk ke perpustakawan cara, mengontrol suhu dan kelembaban ruangan.

Tempatkan kapur barus dan akar “loro setu” di antara buku-buku agar serangga segan menghampirinya. Yang paling baik ialah menyediakan ruangan khusus untuk perbaikan bahan pustaka dengan petugasnya sekaligus, sehingga kalau diperlukan perbaikan bahan pustaka, dapat dikerjakan dengan cepat. Jangan menunggu kerusakan menjadi lebih berat.

Cepatlah bertindak, jagalah selalu kebersihan dan kerapihan sehingga mengundang pembaca untuk memakai perpustakaan dengan baik, dan bagi pustakawan sendiri akan semakin senang bekerja dengan baik.




Perbaikan Bahan Pustaka dan Restorasi

Sebagai pustakawan kita harus dapat memperbaiki dokumen yang rusak, baik itu kerusakan kecil maupun kerusakan berat. Perpustakaan sebaiknya memiliki ruangan khusus untuk melakukan pekerjaan ini. Menambah buku berlubang oleh larva kutu buku atau sebab lainnya, menyambung kertas yang robek, atau menambal halaman buku yang koyak adalah pekerjaan yang mesti dapat dikerjakan. Mengganti sampul buku yang rusak total, menjilid kembali, atau mengencangkan penjilidan yang kendur adalah pekerjaan yang harus dikuasai oleh seorang restaurator. Berbagai macam kerusakan yang lain yang mungkin terjadi, tidak boleh ditolak oleh bagian pelestarian ini. Peralatan yang diperlukan, serta bahan dan cara mengerjakan perbaikan ini harus dipelajari benar-benar oleh seorang pustakawan atau teknisi bagian pelestarian.

PENCEGAHAN KERUSAKAN BAHAN PUSTAKA

Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka

Setiap pustakawan harus dapat mencegah terjadinya kerusakan bahan pustaka. Kerusakan itu dapat dicegah jika kita mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.

Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka bermacam-macam bisa oleh manusia, oleh tikus, oleh serangga, dan lain-lain. Penggunaan sistem pengumpanan, peracunan buku, penuangan larutan racun ke dalam lubang rayap, memberikan lapisan plastik pada lantai dan menempatkan kapur barus di rak merupakan cara untuk dapat mencegah kerusakan bahan pustaka. Tentu saja pencegahan yang berhasil akan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi perpustakaan.

Dalam kegiatan belajar 2 dibicarakan cara mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur,oleh banjir,oleh api, dan oleh debu. Dalam mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur disarankan agar kelembaban udara ruangan harus dijaga tidak lebih dari 60% RH.

Kapur sirih,arang ,silicagel atau mesin penyerap uap air yang bernama DEHUMIDIFIER dapat digunakan untuk menyerap uap air. Pemeriksaan kelembaban udara ruangan dan pembubuhan obat anti jamur pada buku merupakan salah satu cara mencegah kerusakan bahan pustaka.

Pencegahan kerusakan bahan pustaka karena banjir dapat dilakukan dengan cara membersihkan lumpur dan pengeringan bahan pustaka. Hendaknya bahaya banjir bisa diantisipasi. Kerusakan oleh api dapat dicegah dengan menghindari kebakaran di antaranya dengan memeriksa kondisi kabel listrik secara rutin, penyediaan alat pemadam kebakaran, serta adanya aturan yang ketat misalnya dilarang merokok.




FUMIGASI, DEASIDIFIKASI, DAN LAMINASI

Fumigasi

Agar bahan pustaka bebas dari penyakit, kuman, serangga, jamur, dan lainnya, bahan pustaka perlu diasapkan dengan bahan kimia tertentu yang disebut dengan fumigasi. Dalam mengadakan fumigasi pustakawan harus memperhitungkan jumlah bahan yang akan difumigasi dan luas ruang yang diperlukan. Dengan memperhatikan ruang yang ada maka dipilih pula fumigant yang akan dipergunakan, jenis-jenis fumigant, jumlah yang diperlukan serta lama fumigasi.

Pustakawan juga harus memperhatikan bahaya dari pemakai zat-zat kimia untuk fumigasi. Tidak satu pun bahan kimia dapat dipakai tanpa alat pengaman, atau tanpa supervisi oleh orang yang berpengalaman dalam bidang ini.

Menghilangkan Keasaman pada Kertas

Keasaman yang terkandung dalam kertas menyebabkan kertas itu cepat lapuk, terutama kalau kena polusi. Bahan pembuat kertas merupakan bahan organik yang mudah bersenyawa dengan udara luar. Agar pengaruh udara tersebut tidak berlanjut, maka bahan pustaka perlu dilaminasi. Agar laminasi efektif, sebelum dikerjakan, bahan pustaka dihilangkan atau diturunkan tingkat keasamannya. Ada dua cara menghilangkan keasaman pada bahan pustaka, yaitu cara kering dan cara basah. Sebelum ditentukan cara yang mana yang tepat, maka perlu diukur tingkat keasaman pada dokumen. Ada berbagai alat pengukur tingkat keasaman dokumen yang dibicarakan dalam bahan pustaka ini, sehingga pustakawan dapat memilih cara mana yang paling mungkin untuk dikerjakan sesuai dengan kondisinya.

Tinta yang dipergunakan untuk menulis bahan pustaka sangat menentukan apakah bahan pustaka akan dihilangkan keasamannya secara basah, atau secara kering. Kalau tinta bahan pustaka luntur, maka cara keringlah yang paling cocok. Kalau menggunakan cara basah, harus diperhatikan cara pengeringan bahan pustaka yang ternyata cukup sukar dan harus hati-hati. Kalau hanya sekedar mengurangi tingkat keasaman kertas dan tidak akan dilaminasi, kiranya cara kering lebih aman, sebab tidak ada kekhawatiran bahan pustaka robek. Cara kering ini dapat diulang setiap enam bulan, sampai bahan pustaka dimaksud sudah kurang keasamannya dan dijamin lebih awet.

Laminasi dan Enkapsulasi

Setelah kertas dihilangkan atau dikurangi sifat asamnya, maka untuk memperpanjang umur bahan pustaka perlu diadakan pelapisan atau laminasi, terutama bahan pustaka yang lapuk atau robek sehingga menjadi tampak kuat atau utuh kembali. Ada 2 cara laminasi yaitu laminasi dengan mesin dan dengan cara manual.

Pertimbangan yang perlu diambil dalam melaminasi suatu bahan adalah bahan tersebut harus bersih dan dikurangi tingkat keasamannya. Cara lain selain laminasi adalah enkapsulasi. Enkapsulasi adalah salah satu cara melindungi kertas dari kerusakan fisik misalnya rapuh karena umur. Yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan enkapsulasi adalah kertas harus bersih, kering dan bebas asam.


PENJILIDAN

Mengenal Bahan Jilidan

Buku bukan merupakan tumpukan kertas yang berdiri sendiri, tapi merupakan struktur yang satu sama lain saling terikat. Struktur buku terdiri atas: segi, foredge, kertas hujungan, badan buku, papan jilidan, ikatan timbul, groove, tulang pita kapital dan sebagainya. Agar struktur itu tidak lepas satu sama lainnya, maka buku perlu dijilid.

Perlengkapan penjilidan meliputi: pisau, palu, pelubang, gunting, tulang pelipat, penggaris besi, kuas, gergaji, jarum, benang, pengepres, pemidang jahit, mesin potong dan sebagainya.

Mutu kualitas jilid selain ditentukan oleh kemahiran dalam bekerja juga ditentukan oleh bahan yang digunakan.

Bahan penjilid meliputi kertas, kain linen, perekat, benang dan kawat jahit. Arah serat kertas merupakan hal yang penting bagi pekerjaan penjilidan. Arah serat yang salah akan mengakibatkan jilidan tidak rapi dan lemah.

Menyiapkan Penjilidan dan Jenis-jenis Penjilidan

Sebelum dijilid, buku perlu dipersiapkan secara baik. Kekeliruan atau kekurangan dalam persiapan, dapat berakibat fatal dan mengecewakan. Juga merupakan pemborosan jika harus dijilid ulang. Persiapan penjilidan meliputi dua hal yaitu: (1) penghimpunan kertas-kertas atau bahan pustaka, (2) penggabungan. Penghimpunan harus dikerjakan secara teliti, jangan salah mengurutkan nomor halaman. Kalau majalah, jangan salah mengurutkan nomor penerbitannya. Panjang-pendek, serta lebar kertas harus disamakan. Rapihkan sisi sebelah kiri agar pemotongan dan perapihan dapat dikerjakan untuk ketiga sisi yang lain. Petunjuk penjilidan harus disertakan, agar hasilnya sesuai dengan yang kita kehendaki.

Dalam melakukan penggabungan kita harus melihat jilidan macam apa yang dikendaki sesuai dengan slip petunjuk penjili dan.

Ada lima macam jilidan yang dapat dipilih: (1) jilid kaye, (2) signature binding, (3) jilid lem punggung, (4) jilid spiral, (5) jilid lakban.

PETA, SLIDE, FOTO KOPI DAN TINTA

Pelestarian Koleksi Peta

Peta merupakan salah satu sumber informasi untuk menunjang penelitian, pendidikan, maupun untuk keperluan bisnis. Karena itu ada bermacam-macam jenis peta, misalnya peta geografis, peta perdagangan, peta bahasa, peta navigasi, peta hasil bumi dan sebagainya.

Pelestarian koleksi peta merupakan pengetahuan yang harus dimiliki oleh petugas perpustakaan maupun oleh petugas bagian pelestrian. Peta adalah bahan pustaka yang unik, sebab bentuk dan ukuran, serta informasi yang terkandung di dalamnya begitu beraneka ragam. Dengan banyaknya bentuk dan ukuran tersebut maka diperlukan ruang penyimpanan yang beragam pula.

Berbagai jenis kerusakan pada peta antara lain kerusakan karena faktor kimiawi dan kerusakan karena faktor mekanis.

Slide

Slide merupakan salah satu jenis bahan audio-visual yang banyak dipergunakan di perpustakaan terutama untuk mendukung pengajaran dan penelitian.

Slide juga memerlukan pemeliharaan secara hati-hati. Tempat penyimpanan harus bebas dari cahaya langsung dari luar, debu serta kelembaban. Slide yang berserakan akan mudah rusak karena kena debu serta goresan.

Slide tidak dapat dibaca dengan mata telanjang. Untuk membaca slide, harus menggunakan alat yang disebut proyektor. Karena itu proyektor harus selalu dirawat agar slidenya dapat dimanfaatkan setiap saat.

Foto Kopi dan Tinta

Dewasa ini banyak perpustakaan menggunakan foto kopi terutama untuk melestarikan koleksinya yang sudah rusak dan langka, sehingga bisa dipinjamkan pada pemakai. Tetapi foto copi sebagai sarana pelestarian dokumen masih kontroversi.

Tinta ternyata merupakan komponen pembuat buku yang sangat penting dan beraneka ragam. Sejak 2.500 tahun Sebelum Masehi tinta sudah dikenal oleh bangsa Mesir dan bangsa Cina. Sampai ditemukannya mesin cetak pada pertengahan abad ke-15, tinta tulis memiliki peranan yang paling penting dalam produksi buku. Setelah mesin cetak diketemukan, bentuk tintanyapun menyesuaikan dengan keperluan percetakan. Tentu saja banyak variasi soal kualitas, warna dan harganya. Tiga macam jenis tinta ialah: 1) tinta tulis, 2) tinta ball point dan 3) tinta cetak.

Tinta juga dapat meningkatkan keasaman pada kertas, sehingga dengan jenis tinta tertentu misalnya iron gall dapat merusak kertas dengan cepat.

PELESTARIAN NILAI INFORMASI

Bentuk Mikro

Dalam mengatasi kekurangan tempat atau ruangan di perpustakaan dan juga melestarikan informasi dari buku-buku yang sudah lapuk, maka diperlukan alih bentuk dokumen. Alih bentuk yang terkenal ialah bentuk mikro atau lazim disebut mikrofilm. Kelebihan bentuk mikro adalah: hemat ruang, aman dari pencurian, mudah direproduksi dan murah, mudah diakses, akurat dan ekonomis.

Kekurangan bentuk mikro, misalnya harus memakai alat baca yang harganya cukup mahal, dan selalu berubah mutu serta semakin mahalnya alat baca menjadi kendala bagi perpustakaan. Membaca dengan alat baca yang kaku mengurangi kenyamanan pembacanya. Untuk mengatasi hal tersebut diberikan alternatif membuat hard copy yang dapat dibaca dan dibawa sekehendak pembacanya.

CD-ROM (Compact Disk-Read Only Memory)

Teknologi video disk, yang semula dicobakan untuk pelestarian di The Library of Congress tahun 1982, ternyata telah berkembang lebih maju untuk penyimpanan, pengolahan, dan penemuan informasi yang handal dewasa ini.

Sebagai pustakawan di zaman modern ini kiranya tidak salah kalau Anda mempunyai gambaran mengenai teknologi informasi yang memberikan banyak harapan bagi produksi, pengolahan, pemakaian dan pelestarian informasi. Kemudahan untuk menemukan kembali informasi yang telah disimpan dalam disk, misalnya dalam bentuk CD-ROM inilah yang memberikan prospek cerah bagi perkembangan layanan perpustakaan.

Sesuai dengan namanya, data atau informasi digital yang sudah direkam di dalam CD-ROM tidak dapat dihapus atau ditambah pemakai, tetapi hanya dapat dibaca saja oleh pemakai.

Beberapa keunggulan dari CD-ROM:

merupakan sarana penyimpanan informasi berkapasitas tinggi

memudahkan penelusuran literatur

tahan terhadap gangguan elektromagnetis

bagi perpustakaan CD-ROM memudahkan pembuatan katalog

mempercepat penerbitan

——————————————————————————–

PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA DI BERBAGAI NEGARA

Keadaan Pelestarian Bahan Pustaka di Inggris

Tokoh kawakan Languell yang menerbitkan bukunya tahun 1957 memberikan gagasan tentang perlunya pelestarian bahan perpustakaan pada masa itu. Melalui diskusi dan pertemuan tahunan dari asosiasi perpustakaan di Inggris, mereka semakin yakin bahwa bagian pelestarian makin diperlukan. Dengan bukunya yang baru terbit tahun 1991 John Feather melukiskan bahwa kegiatan pelestarian bahan pustaka tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan manajemen koleksi perpustakaan. Buku ini semakin memberikan kepercayaan bagi pustakawan di Inggris, bahwa bagian pelestarian sangat diperlukan. Berbagai masalah yang mereka hadapi, misalnya tentang mahalnya buku dan terbatasnya anggaran perpustakaan mengharuskan pustakawan untuk berpaling kepada pelestarian.

Faktor pendukung yang ada di Inggris, misalnya lengkapnya jenis bahan kimia untuk menghilangkan berbagai musuh bahan pustaka, tersedianya pengusaha komersial dalam bidang penjilidan atau dalam bidang pelestarian, memberikan kesempatan kepada para pustakawan untuk memilih cara terbaik dalam pelestarian bahan pustaka yang sesuai dengan kondisi di tempat mereka. Banyaknya perpustakaan rujukan yang telah berhasil melakukan program pelestarian seperti The British Library atau Universitas Cambridge, merupakan tempat yang baik bagi para pustakawan di Inggris untuk belajar langsung ke lapangan.

Keadaan Pelestarian di USA

Banyaknya faktor pendukung menyebabkan sistem pelestarian di Amerika Serikat sangat maju. Faktor pendukung tersebut di antaranya, para pakar yang dengan rajin memberikan konsultasi dan menuliskan pengalaman mereka pada majalah profesional maupun dalam bentuk buku yang jelas dan mudah diikuti. Persaingan sehat antara para pakar menimbulkan gairah kerja bagi mereka para pustakawan bagian pelestarian. Faktor pendukung yang lain ialah adanya penyangga dana dari yayasan atau pemerintah federal untuk proyek atau program pelestarian yang baik.

Faktor selanjutnya ialah adanya laboratorium yang dimiliki oleh perpustakaan besar, dan percobaan-percobaan yang mereka lakukan demi kemajuan bidang pelestarian. Adanya kepeloporan yang tangguh dalam menciptakan tenaga pelestarian terdidik, dari waktu ke waktu dan dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi.

Faktor pendukung lainnya ialah kesediaan bekerja sama antara perpustakaan yang satu dengan yang lain baik dari suatu daerah lokal, regional, sampai tingkat nasional. Sistem komunikasi yang mudah dan murah mendukung terselenggaranya kerja sama dalam pelestarian tersebut.

Keadaan Pelestarian di Puerto Rico (Amerika Latin)

Iklim daerah tropis sangat tidak mendukung pelestarian bahan pustaka. Haydee Munoz Sola memberikan gambaran program pelestarian yang ada di kampus Medical Services University of Puerto Rico di Rico Piedras. Sebelum masuk kepada permasalahannya ia menceritakan sedikit tentang sejarah perpustakaan dan sejarah pelestarian. Iklim tropis dengan berbagai ciri-cirinya yang dapat merusakkan koleksi perpustakaan dan banyaknya kendala yang harus dihadapi oleh perpustakaan di daerah tropis termasuk kurangnya anggaran untuk menyelenggarakan program pelestarian. Kemudian ia menceritakan letak geografis Puerto Rico yang banyak bencana alam seperti badai, banjir, angin puyuh dan sebagainya.

Perpustakaan kesehatan Puerto Rico memiliki koleksi khusus yang disebut The Ashford Collection, yang memiliki 3000 dokumen yang berupa buku dan korespondensi. Dokumen ini sangat penting untuk penelitian penyakit di daerah tropis. Karena itu perlu diawetkan.

ORGANISASI, LEMBAGA RISET, DAN LEMBAGA PENDIDIKAN BIDANG PELESTARIAN

Organisasi Lokal, Nasional, dan Internasional

Organisasi Bidang Pengawetan sangat berjasa dalam mengembangkan bidang ini. Mereka menyelenggarakan seminar, workshop dan pertemuan atau diskusi lainnya. Banyak buku petunjuk dibuat untuk disebarluaskan oleh organisasi ini. Begitu pula latihan keterampilan banyak diberikan oleh para organisasi tersebut.

Ada tiga macam organisasi bidang pelestarian yaitu: (1) organisasi lokal, (2) organisasi nasional, (3) organisasi internasional.

Yang dimaksud dengan organisasi lokal ialah organisasi yang sifatnya hanya berlaku lokal, menurut daerah-daerah tertentu. Di Indonesia tidak ada organisasi semacam ini.

Organisasi pelestarian yang bersifat nasional di Indonesia juga belum ada.

Lembaga Riset, dan Pendidikan Teknisi/Profesional

Lembaga riset penting untuk mendukung kehidupan dan perkembangan suatu profesi. Karena itu, kita sering menemukan R & D yang artinya Research & Development, sepasang kata yang bergandengan sebagai suatu sebab akibat dari suatu kegiatan. Penelitian diadakan untuk mencapai suatu perkembangan. Begitu pula dalam profesi pelestarian dan pengawetan dokumen, perlu diadakan berbagai penelitian untuk memperoleh perkembangan dalam bidang tersebut. Saat ini di Indonesia belum memiliki lembaga riset bidang pelestarian.

Jurusan ilmu perpustakaan Fakultas Sastra UI memberikan pendidikan pelestarian sebagai satu mata kuliah saja berjudul: Pelestarian dan Pemeliharaan Bahan Perpustakaan untuk program S1, S2 dan S0 perpustakaan dan D III Kearsipan.

Ada tiga jenis tenaga dalam bidang pelestarian yaitu:

Pustakawan untuk pelestarian, yang mengepalai Bagian Pelestarian di perpustakaan.

Konservator, yaitu orang yang langsung bertanggung jawab untuk memperbaiki dokumen.

Teknisi Bidang Konservasi.

Rencana Pembentukan Bagian Pelestarian untuk Perpustakaan

Dalam menentukan kebijakan program pelestarian, kita harus selalu melihat kepada keadaan fisik bahan perpustakaan. Ini dipergunakan sebagai titik tolak perbaikan, menentukan lama, dan skala prioritas pelestarian. Bagian pelestarian tidak kalah penting dengan bagian-bagian lain di perpustakaan. Bagian ini memang sangat penting untuk dimiliki karena dapat meningkatkan mutu pelayanan perpustakaan. Dengan adanya

bagian ini diharapkan sewaktu-waktu buku diperlukan sudah tersedia di rak. Kalau ada kerusakan cepat dapat diperbaiki.

Selanjutnya faktor-faktor lain yang harus diperhatikan ialah keadaan koleksi perpustakaan, apakah koleksi tersebut sudah memenuhi kebutuhan pembaca, apakah koleksi tersebut banyak rusak atau koleksi tersebut tidak perlu dilestarikan. Faktor kedua adalah penggunaan koleksi secara padat atau tak pernah digunakan sama sekali. Faktor selanjutnya ialah tuntutan pemakai yang selalu menghendaki koleksi yang rapih. Faktor bangunan dan ruangan tempat menyimpan buku juga diperhatikan. Dalam melestarikan koleksi ada tiga hal yang diperhatikan yaitu: 1) Bahan apa saja yang perlu dilestarikan?, 2) Untuk berapa lama bahan dilestarikan?, 3) Alat-alat apa yang dipergunakan untuk melestarikan? Dalam melestarikan bahan pustaka kita harus melihat: 1) subjek, 2) format, 3) usia bahan, 4) penggunaan bahan.

Mengenai lama bahan dilestarikan itu tergantung dari keperluan perpustakaan. Pembentukan suatu program pelestarian di suatu perpustakaan dapat dimulai setelah semua fihak dari bagian-bagian lain perpustakaan menyetujuinya.

Sesudah semuanya jelas, maka dapat disusun pedoman tentang kebijakan pelestarian yang dapat dipakai oleh pihak pimpinan untuk membentuk program pelestarian di perpustakaan tersebut untuk kepentingan pelestarian.

Program pelestarian bahan perpustakaan di suatu perpustakaan tidak akan sama dengan program pelestarian yang dimiliki perpustakaan lain. Karena itu suatu model yang paling canggih pun tidak akan dapat memenuhi keperluan bagi semua perpustakaan