Minggu, 30 Maret 2008

Renungan




Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi
betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa. Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur’an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid

Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saatterakhir untuk event yangmenyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur’an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.

Kamis, 20 Maret 2008

*Yang Shahih Ta'lim Dulu atau Ta'lim Sambil Berdakwah?*



Apakah generasi para shahabat melakukan tarbiyyah dan tashfiyyah dulu sampai
mencapai derajat ulama, baru kemudian berdakwah dan berjihad, ataukah mereka
melakukan tarbiyyah dan tashfiyyah sambil langsung berdakwah dan berjihad?

Salah satu klaim yang disampaikan oleh sebagian orang yang terlalu
bersemangat dan selalu 'asbed' (asal beda) dengan kelompok-kelompok dakwah
yang lain, adalah bahwa generasi Salaf itu melakukan tarbiyyah & tashfiyyah
dulu, barulah setelah mereka berilmu maka barulah mereka boleh berjihad atau
melakukan amal-amal politik, jadi -menurut mereka- kelompok yang sekarang
sibuk tarbiyyah sambil berpolitik itu dicap sebagai mukhalifus-sunnah
(berbeda dengan sunnah)..

Jika seandainya mereka menganggap pendapat ini sebagai min baabil ijtihaad
(termasuk dalam hal-hal yang sifatnya ijtihadiyyah) serta mereka mau
menghormati pendapat lain yang berbeda karena hal tersebut merupakan ijtihad
pula, maka mereka telah benar & sesuai dengan sunnah dan hal tersebut
tidaklah mengapa (laa ba'sa bihi)..

Namun amat disayangkan bahwa pemahaman tersebut diikuti dengan vonis mereka
kepada kelompok yang berbeda pendapat dengan mereka dengan label sindiran
halus seperti: 'karena tidak mengerti sunnah' atau 'tidak tegar di atas
sunnah' sampai vonis yang amat kasar seperti: 'juhala' atau 'khawarij' atau
'terkurung dalam quyud hizbiyyah' dll (bisa dicek di web-web milik mereka).

Saya melihat bahwa sebagian vonis mereka tersebut (seperti vonis : Takfiri,
Khariji, Hizbiyy, dsb) malah menimpa pada diri mereka sendiri -waliLLAAHil
hamdu wal minah-, benarlah sabda RasuluLLAAH -Semoga Shalawat serta Salam
senantiasa tercurah pada diri beliau-: "Tidak boleh seorang melempar tuduhan
pada orang lain dengan tuduhan Fasiq, atau dengan tuduhan Kufur, karena
tuduhan tersebut akan kembali pada dirinya jika yang dituduhnya tidak
demikian[1]."

Dalam redaksi yang lainnya disebutkan: "Jika seseorang berkata pada
saudaranya (sesama muslim): Hai kafir! Maka hal itu sama dengan membunuhnya,
demikian pula melaknat seorang mukmin juga sama dengan membunuhnya[2]!"
Dalam atsar yang diriwayatkan oleh Ali -semoga ALLAAH Yang Maha Mulia lagi
Maha Tinggi meridhoi beliau- bahwa: "Kalian bertanya kepadaku tentang
orang-orang yang suka mencaci dengan kata-kata: Hai Kafir! Hai Fasiq! Hai
Himar (Keledai)! Yang demikian ini tidak dihukum hadd tetapi dihukum
(ta'zir) oleh penguasa agar tidak mengulangi kata-kata tersebut[3]!"

Demikianlah hukuman bagi mereka yang suka mencaci & menghina kelompok lain
itu, bahkan mereka memberikan gelar (laqab) yang buruk pada AL-IKHWAN
AL-MUSLIMIN (Persaudaraan Muslimin) menjadi AL-IKHWAN AL-MUFLISIN
(Persaudaraan Orang-Orang Yang Bangkrut), sekali lagi Maha Adillah ALLAAH
Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi, sehingga kata-kata itupun akhirnya
berbalik pada diri mereka sendiri, sebagaimana dalam hadits berikut ini
sabda Nabi -Semoga Shalawat & Salam senantiasa tercurah pada beliau-:
"Tahukah kalian siapa AL-MUFLIS (orang yang bangkrut) itu? … dst, sampai
dengan sabda beliau: Sesungguhnya AL-MUFLIS dari ummatku adalah orang-orang
yang datang di Hari Kiamat dengan membawa PAHALA shalat, puasa dan zakat,
tetapi ia juga pernah MENCACI si fulan, MENUDUH si fulan, memakan harta si
fulan, menumpahkan darah si fulan, memukul si fulan, maka diberikanlah
pahalanya pada si fulan & si fulan, sehingga apabila telah habis pahalanya
sebelum habis dosanya maka diambillah dosa orang-orang lain tersebut &
dipikulkan pada dirinya lalu dilemparkan ia ke neraka[4]." Segala puji bagi
ALLAAH Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi, nampak jelaslah siapa yang
sebenarnya yang termasuk kelompok yang AL-MUFLISIN tersebut..

Lalu sekarang marilah kita lihat bersama, apakah benar bahwa para sahabat
-semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi mereka semua- itu
mempelajari Al-Qur'an & As-Sunnah itu seluruhnya dulu baru bergerak
(berharokah) ataukah mereka sambil mempelajari kandungan Al-Qur'an &
As-Sunnah (tarbiyyah & tashfiyyah) itu sambil sekaligus berharokah &
berjihad menegakkannya? Biarkanlah mereka para sahabat yang mulia tersebut
yang menuturkannya sendiri, sebagaimana dalam hadits-hadits shahih berikut
ini:

*HUJJAH PERTAMA: PARA SHAHABAT TIDAK PERNAH MENAMBAH ILMUNYA LEBIH DARI 10
AYAT SEBELUM LANGSUNG MENGAMALKANNYA*

1. Telah menceritakan pada kami Muhammad bin Ali bin Hasan bin Syaqiq
Al-Marwazi berkata: Saya mendengar ayahku berkata: Telah menceritakan pada
kami Al-Husein bin Waqid berkata: Telah menceritakan pada kami Al-A'masy
dari Syaqiq dari Ibnu Mas'ud -semoga ALLAAH Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi
meridhoi beliau- berkata: "Adalah seorang dari kami jika telah mempelajari
10 ayat maka ia tidak menambahnya sampai ia mengetahui maknanya &
mengamalkannya[5]." Jadi walaupun mereka bisa mempelajari ilmu lebih banyak
& lebih luas lagi tapi mereka tidak melakukannya, mereka tidak mau menambah
ilmu tersebut kecuali setelah dapat mengamalkannya, sehingga sambil belajar
juga mengaplikasikannya.

2. Telah menceritakan pada kami Ibnu Humaid berkata: Telah menceritakan pada
kami Jarir dari 'Atha' dari Abi AbdiRRAHMAN berkata: Telah menceritakan pada
kami orang-orang yang membacakan pada kami berkata: Bahwa mereka yang
menerima bacaan dari Nabi -Semoga Shalawat serta Salam senantiasa tercurah
pada diri beliau- (menceritakan) adalah mereka apabila mempelajari 10 ayat
tidak pernah meninggalkannya (tidak menambahnya) sebelum mengaplikasikan apa
yang dikandungnya, maka kami mempelajari ilmu Al-Qur'an dan amalnya
sekaligus[6].

*HUJJAH KEDUA: PERINTAH MENYAMPAIKAN ILMU WALAUPUN BARU MENGUASAI 1 AYAT*

1. Hadits Nabi -Semoga Shalawat serta Salam senantiasa tercurah pada diri
beliau- dari AbduLLAH: "Sampaikanlah oleh kalian dari aku walaupun 1 ayat
dan ceritakanlah dari bani Isra'il dan itu tidak mengapa dan barangsiapa
berdusta atas namaku dengan sengaja maka sediakanlah tempat duduknya di
neraka[7]." Dan hadits ini selain memerintahkan kita agar tidak ragu
berdakwah walau modal ilmunya baru sedikit, juga menjelaskan bahwa yang
wajib mempelajari ilmu syari'ah secara mendalam itu tidak diwajibkan atas
seluruh muslimin, melainkan cukup sebagian saja yang memang ber-kafa'ah
untuk hal tersebut.

2. Berkata Abu Hatim -semoga ALLAAH Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi
meridhoi beliau- saat mengkomentari hadits tersebut: "Hadits tersebut
khithabnya adalah pada para shahabat dan termasuk didalamnya mereka yang
semisalnya sampai Hari Kiamat untuk sebagian dari mereka agar menyampaikan
dari Nabi -Semoga Shalawat serta Salam senantiasa tercurah pada diri beliau-
& hukumnya adalah fardhu-kifayah, jika sebagian ummat sudah melakukannya
maka lepas kewajiban tersebut bagi yang lainnya[8]."

*HUJJAH KETIGA: BERBAGAI PERISTIWA PENTING DALAM AHKAMU-SYAR'IYYAH
DITURUNKAN TIDAK LEBIH DARI 10 AYAT SAJA*

1. Salah satu riwayat tentang Sabab Nuzul QS Al-Ankabut[9], ketika turun
perintah berhijrah maka kaum muslimin menulis surat pada para kerabatnya di
Mekkah bahwa tidak akan diterima keislaman kalian sampai kalian berhijrah,
maka merekapun keluar menuju Madinah maka mereka dikejar oleh kaum musyrikin
lalu dikembalikan ke Mekkah, maka ALLAH Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi
menurunkan awal surah ini sampai 10 ayat, maka kaum muslimin menyurati lagi
kerabatnya tentang ayat yang turun tentang mereka ini, maka berkatalah
mereka : Jika demikian maka kami akan keluar (hijrah), jika mereka mengejar
kami maka akan kami melawan! Maka merekapun keluar & dikejar oleh kaum
musyrikin dan terjadi perlawanan, sehingga sebagian mereka syahid terbunuh &
sebagian lainnya berhasil lari ke Madinah, lalu ALLAH Yang Maha Mulia lagi
Maha Tinggi menurunkan lagi ayat: TSUMMA INNA RABBAKA LILLADZIINA HAAJARUU
MIN BA'DI MAA FUTINUU[10]..[11]"

2. Berkata Imam Ibnul Jauzy: "Telah ijma' para mufassirin bahwa ayat:
INNALLADZIINA JAA'UU BIL IFKI[12].. sampai 10 ayat turun berkenaan dengan
peristiwa 'Haditsul-Ifki' (berita bohong) terhadap Ummul Mu'minin Aisyah
-semoga ALLAAH Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi beliau-. Dan
hadits-haditsnya selengkapnya telah aku bahas panjang lebar dalam kitabku:
Al-Hadaa'iq & Al-Mughnii fii Tafsiir, maka aku tidak akan membahasnya
panjang lebar lagi disini[13]."

3. Pemutusan hubungan dan pernyataan perang dengan kaum musyrikin Makkah
dilakukan dengan 10 ayat dari awal surah At-Taubah (Bara'ah), yang
disampaikan Nabi -Semoga Shalawat serta Salam senantiasa tercurah pada diri
beliau- kepada Abubakar -semoga ALLAAH Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi
meridhoi beliau- dan dibacakan oleh Ali -semoga ALLAAH Yang Maha Mulia lagi
Maha Tinggi meridhoi beliau-[14].

*HUJJAH KEEMPAT: BAHKAN TAURAT, INJIL DAN ZABUR-PUN PERINTAH AWALNYA JUGA
HANYA 10 AYAT SAJA*

1. Dari Ka'ab al-Akhbar -semoga ALLAAH Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi
meridhoi beliau-: "Yang pertama kali diturunkan dari Taurat adalah 10 ayat,
dan itu adalah 10 ayat yang ada di akhir surah Al-An'am, yaitu: QUL TA'AALAW
ATLU MAA HARRAMA RABBUKUM.. sampai akhir ayat[15]."

2. Dari 'UbaiduLLAAH bin AbdiLLAAH bin 'Adiyy bin Al-Khiyar berkata: Ka'ab
-semoga ALLAAH Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi beliau- mendengar
seseorang membaca ayat: QUL TA'AALAW ATLU MAA HARRAMA RABBUKUM.. Maka
berkatalah Ka'ab -semoga ALLAAH Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi
beliau-: Demi jiwa Ka'ab yang berada di tangan-NYA! Itu adalah awal ayat
dalam Taurat![16]"

3. Berkata Imam Asy-Syaukani[17] : "Hukum ini juga telah dituliskan oleh
para Ahluz-Zabur dalam akhir kitab Zabur mereka & Ahlul-Injiil dalam awal
kitab Injiil mereka."

*HUJJAH KELIMA: HIKMAH AL-QUR'AN DITURUNKAN TIDAK SEKALIGUS MELAINKAN
SEDIKIT DEMI SEDIKIT YAITU AGAR KAUM BERIMAN MEMPELAJARI ILMU SEKALIGUS
LANGSUNG MENERAPKANNYA*

Berkata Imam Adz-Dzahabi[18]: "Demikianlah para sahabat membutuhkan waktu
yang amat lama untuk menghafal 1 surah (karena sekaligus ingin
melaksanakannya), sehingga telah meriwayatkan Imam Malik dalam Al-Muwaththa'
bahwa Ibnu Umar membutuhkan waktu 6 tahun untuk menghafal surah Al-Baqarah,
karena ALLAH Ta'alaa telah berfirman : KITAABUN ANZALNAAHU ILAYKA MUBAARAKUN
LIYADDABBARUU.."

Demikianlah ikhwah wa akhawat fiLLAAH rahimakumuLLAAH, sebagian kecil dari
dalil-dalil syar'iyyah yang telah saya paparkan di atas semoga dapat membuka
mata kita, menjauhkan kita dari sikap ta'ashub-hizbiyyah yang dilarang oleh
syariat, serta memberikan thuma'ninah dalam hati kita bahwa ijtihaad yang
telah kita jalani ini didasarkan atas dalil-dalil shahih & jauh dari
taqliid-amaa' (taqlid-buta), waliLLAAHil hamdu wal minah, tamaam bi
idzniLLAAHi Ta'aalaa..

*Catatan Kaki:*

[1] Lih. Al-Albani dalam Ash-Shahiihah (VI/390, hadits no. 2891), berkata
Albani : Hadits ini di-takhrij oleh Bukhari dalam shahih-nya (no. 6045), Abu
Awwanah (I/23), Ahmad (V/181), Al-Bazzar (IV/431).

[2] Al-Albani men-shahih-kannya dalam Shahiih Jami' Shaghiir (II/212 hadits
no. 710, 712).

[3] Al-Albani meng-hasan-kannya dalam Al-Irwa' (VIII/54)

[4] Al-Albani men-shahih-kannya dalam Ash-Shahiihah (II/527, hadits no.
847).

[5] Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam
tahqiq-nya atas tafsir At-Thabari (I/80).

[6] Berkata Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (lih. Tafsir At-Thabari, I/80) :
Hadits ini shahih-muttashil.

[7] HR Bukhari, XI/277 no.3461; Tirmidzi IX/277; Ahmad no. 6198, 6594 &
6711; AbduRRAZZAQ, VI/109; Thabrani (dalam Al-Kabiir, XX/141 & Ash-Shaghiir,
II/34); Ad-Darimi, II/95.

[8] Shahih Ibnu Hibban, XXVI/50, no. 6362

[9] Zaadul Masiir, Imam Ibnul Jauzy, V/66

[10] QS An-Nahl, XVI/110

[11] Ini adalah pendapat Asy-Sya'biy dan Al-Hasan (Zaadul Masiir, V/66)

[12] QS An-Nuur, XXIV/11

[13] Zaadul Masiir, IV/435

[14] HR Ahmad (Al-Musnad, III/283), Ibnu Ahmad (Zawaa'id Al-Musnad, I/151),
Tirmidzi (As-Sunan, no.3090)

[15] HR Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Dhurays & Ibnul Mundzir (Fathul Qadiir, Imam
Asy-Syaukani, II/500)

[16] HR Abu Syaikh (Fathul Qadiir, II/500)

[17] Fathul Qadiir, II/500

[18] At-Tafsiir wal Mufassiruun, II/7


--
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Minggu, 09 Maret 2008


Konsekwensi Amanat

Dari Abu Zar ra. dia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah tidakkah engkau limpahkan suatu tugas (jabatan) kepadaku? Dia berkata: Beliau menepuk-nepuk kedua bahuku dengan tangannya, kemudian bersabda: Wahai Abu Zar, kamu lemah, dan ini adalah amanat yang mana pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengembannya dengan benar dan melaksanakan apa yang telah diamanatkan kepadanya.
Dalam lafal lain: Wahai Abu Zar, sesungguhnya aku melihatmu sangat lemah dan aku sangat menyukai untuk dirimu apa-apa yang aku sukai untuk diriku. Kamu tidak akan ditunjuk untuk menghakimi dua orang yang bertikai dan menjadi wali harta anak yatim (Muslim, 1825, 1826).
Nawawi berkata (dalam Penjelasan Sahih Muslim, jilid 12, halaman 210): Hadis ini adalah dalil yang menerangkan tentang menghindari kekuasaan, apalagi bagi orang yang di dalam dirinya terdapat kelemahan untuk menjalankan tugas-tugas kekuasaan itu. Kehinaan dan penyesalan itu akan diterima orang-orang yang bukan ahlinya, atau bagi orang yang ahlinya tetapi dia tidak adil dalam menjalankannya, maka Allah akan menghinakannya pada hari kiamat, dan memberikan penyesalan atas apa yang disia-siakannya. Adapun orang yang layak untuk menjalankan kekuasaan dan berlaku adil dalam menjalankannya, maka dia akan mendapatkan keutamaan yang sangat besar yang ditunjukkan oleh hadis-hadis yang sahih dan kesepakatan para ulama tentangnya.
Namun di samping itu karena banyaknya konsekwensi yang ada di dalamnya, maka Rasulullah memperingatkan Abu Zar dan begitu juga memperingatkan para ulama. Sebagian para salaf tidak mau menerimanya dan bersabar atas siksaan yang menimpa mereka pada saat mereka tidak mau menerimanya.

Dalil tentang wajibnya menjalankan amanat
Dari Abu Hurairah ra. dia berkata: "Rasulullah saw. bersabda: 'Jalankanlah amanat yang diembankan kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.'" (Abu Daud, 3535 dan Tirmizi, 1264).
Sabda Rasulullah: "Jalankanlah amanat" adalah perintah, dan perintah itu sifatnya adalah untuk mewajibkan. Allah swt. berfirman: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya." (An-Nisa:58).
Amanat adalah segala sesuatu yang wajib dikerjakan.
Dan sabdanya: "Janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu:" artinya janganlah kamu memperlakukannya sebagaimana dia memperlakukan kamu, dan janganlah membalas pengkhianatannya dengan pengkhianatanmu. Ini adalah nas tentang kewajiban menjalankan amanat, berupa pinjaman, titipan dan lain sebagainya.
Nas ini juga menunjukkan bahwa orang yang melakukan kejahatan akan dibalas kejahatan. Ini adalah masalah yang diperdebatkan oleh para ulama, tetapi pemberian maaf adalah lebih baik, berdasarkan firman Allah swt.: "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim." (Asy-Syura:40)
Lihat: Subulus Salam, jilid 3, halaman 89.

Prioritas Amanat
Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya setiap umat itu memiliki seorang kepercayaan dan sesungguhnya orang kepercayaan kita wahai umatku adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah." (Bukhari, 3744 dan Muslim, 2419)
Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, jilid 7, halaman 93:
"Al-Amin adalah orang yang dipercaya dan diridai. Meskipun sifat ini sama-sama dimiliki oleh sahabat yang lain, tetapi alur pembicaraan menunjukkan bahwa sahabat ini memiliki kelebihan. Maka dari itu Rasulullah memberikan sifat khusus kepada sebagian sahabat, meskipun sahabat yang lain juga memiliki sifat yang sama, seperti:
- Memberikan kekhususan kepada Usman dengan sifat malu.
- Memberikan kekhususan kepada Ali sebagai ahli hukum.
- Memberikan kekhususan kepada Zaid sebagai ahli pembagian warisan.
Meskipun para sahabat yang lain juga memiliki keahlian yang sama dengan mereka dalam masalah itu, tetapi ketiga sahabat itu memiliki kelebihan daripada mereka, begitu pula Abu Ubaidah ra. memiliki kelebihan daripada mereka*

Kamis, 06 Maret 2008

20 Amalan Murah Rizki

Amalan-amalan ini menjadi sebab Allah limpahi hamba-Nya dengan keluasan rezeki dan rasa kaya dengan pemberian-Nya.
Berdasarkan konsep rezeki yang telah diperkatakan, Allah memberi jalan buat setiap hamba-Nya untuk memperolehi rezeki dalam pelbagai bentuk yang boleh menjadi punca kebaikan dunia dan akhirat. Di antaranya:
1. Menyempatkan diri beribadahAllah tidak sia-siakan pengabdian diri hamba-Nya, seperti firman-Nya dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, sempatkanlah untuk menyembah-Ku maka Aku akan membuat hatimu kaya dan menutup kefakiranmu. Jika tidak melakukannya maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu.” (Riwayat Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abu Hurairah r.a.)
2. Memperbanyak istighfar Istighfar adalah rintihan dan pengakuan dosa seorang hamba di depan Allah, yang menjadi sebab Allah jatuh kasih dan kasihan pada hamba-Nya lalu Dia berkenan melapangkan jiwa dan kehidupan si hamba. Sabda Nabi s.a.w.: “Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah s.w.t akan menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas r.a.)
3. Tinggalkan perbuatan dosaIstighfar tidak laku di sisi Allah jika masih buat dosa. Dosa bukan saja membuat hati resah malah menutup pintu rezeki. Sabda Nabi s.a.w.: “… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki kerana dosa yang dibuatnya.” (Riwayat at-Tirmizi)
4. Sentiasa ingat AllahBanyak ingat Allah buatkan hati tenang dan kehidupan terasa lapang. Ini rezeki yang hanya Allah beri kepada orang beriman. Firman-Nya: “(iaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)
5. Berbakti dan mendoakan ibu bapaDalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah s.a.w. berpesan agar siapa yang ingin panjang umur dan ditambahi rezekinya, hendaklah berbakti kepada ibu bapanya dan menyambung tali kekeluargaan. Baginda s.a.w. juga bersabda: “Siapa berbakti kepada ibu bapanya maka kebahagiaanlah buatnya dan Allah akan memanjangkan umurnya.” (Riwayat Abu Ya’ala, at-Tabrani, al-Asybahani dan al-Hakim)Mendoakan ibu bapa juga menjadi sebab mengalirnya rezeki, berdasarkan sabda Nabi s.a.w.: “Apabila hamba itu meninggalkan berdoa kepada kedua orang tuanya nescaya terputuslah rezeki (Allah) daripadanya.” (Riwayat al-Hakim dan ad-Dailami)
6. Berbuat baik dan menolong orang yang lemahBerbuat baik kepada orang yang lemah ini termasuklah menggembirakan dan meraikan orang tua, orang sakit, anak yatim dan fakir miskin, juga isteri dan anak-anak yang masih kecil. Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)
7. Tunaikan hajat orang lainMenunaikan hajat orang menjadi sebab Allah lapangkan rezeki dalam bentuk tertunainya hajat sendiri, seperti sabda Nabi s.a.w.: “Siapa yang menunaikan hajat saudaranya maka Allah akan menunaikan hajatnya…” (Riwayat Muslim)
8. Banyak berselawat Ada hadis yang menganjurkan berselawat jika hajat atau cita-cita tidak tertunai kerana selawat itu dapat menghilangkan kesusahan, kesedihan, dan kesukaran serta meluaskan rezeki dan menyebabkan terlaksananya semua hajat. Wallahu a’lam.
9. Buat kebajikan banyak-banyak Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya kebajikan itu memberi cahaya kepada hati, kemurahan rezeki, kekuatan jasad dan disayangi oleh makhluk yang lain. Manakala kejahatan pula boleh menggelapkan rupa, menggelapkan hati, melemahkan tubuh, sempit rezeki dan makhluk lain mengutuknya.”
10. Berpagi-pagi Menurut Rasulullah s.a.w., berpagi-pagi (memulakan aktiviti harian sebaik-baik selesai solat Subuh berjemaah) adalah amalan yang berkat.
11. Menjalin silaturrahim Nabi s.a.w. bersabda: “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dilambatkan ajalnya maka hendaklah dia menghubungi sanak-saudaranya.” (Riwayat Bukhari)
12. Melazimi kekal berwuduk Seorang Arab desa menemui Rasulullah s.a.w. dan meminta pedoman mengenai beberapa perkara termasuk mahu dimurahkan rezeki oleh Allah. Baginda s.a.w. bersabda: “Sentiasalah berada dalam keadaan bersih (dari hadas) nescaya Allah akan memurahkan rezeki.” (Diriwayatkan daripada Sayidina Khalid al-Walid)
13. BersedekahSedekah mengundang rahmat Allah dan menjadi sebab Allah buka pintu rezeki. Nabi s.a.w. bersabda kepada Zubair bin al-Awwam: “Hai Zubair, ketahuilah bahawa kunci rezeki hamba itu ditentang Arasy, yang dikirim oleh Allah azza wajalla kepada setiap hamba sekadar nafkahnya. Maka siapa yang membanyakkan pemberian kepada orang lain, nescaya Allah membanyakkan baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, nescaya Allah menyedikitkan baginya.” (Riwayat ad-Daruquthni dari Anas r.a.)
14. Melazimi solat malam (tahajud)Ada keterangan bahawa amalan solat tahajjud memudahkan memperoleh rezeki, menjadi sebab seseorang itu dipercayai dan dihormati orang dan doanya dimakbulkan Allah.
15. Melazimi solat Dhuha Amalan solat Dhuha yang dibuat waktu orang sedang sibuk dengan urusan dunia (aktiviti harian), juga mempunyai rahsia tersendiri. Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya." (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)
16. Bersyukur kepada AllahSyukur ertinya mengakui segala pemberian dan nikmat dari Allah. Lawannya adalah kufur nikmat. Allah berfirman: "Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur, nescaya Aku tambahi nikmat-Ku kepadamu, dan demi sesungguhnya jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amat keras." (Ibrahim: 7) Firman-Nya lagi: “… dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 145)
17. Mengamalkan zikir dan bacaan ayat Quran tertentuZikir dari ayat-ayat al-Quran atau asma’ul husna selain menenangkan, menjenihkan dan melunakkan hati, ia mengandungi fadilat khusus untuk keluasan ilmu, terbukanya pintu hidayah, dimudahkan faham agama, diberi kemanisan iman dan dilapangkan rezeki. Misalnya, dua ayat terakhir surah at-Taubah (ayat 128-129) jika dibaca secara konsisten tujuh kali setiap kali lepas solat, dikatakan boleh menjadi sebab Allah lapangkan kehidupan dan murahkan rezeki. Salah satu nama Allah, al-Fattah (Maha Membukakan) dikatakan dapat menjadi sebab dibukakan pintu rezeki jika diwiridkan selalu; misalnya dibaca “Ya Allah ya Fattah” berulang-ulang, diiringi doa: “Ya Allah, bukalah hati kami untuk mengenali-Mu, bukalah pintu rahmat dan keampunan-Mu, ya Fattah ya 'Alim.” Ada juga hadis menyebut, siapa amalkan baca surah al-Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kepapaan. Wallahu a’lam.
18. BerdoaBerdoa menjadikan seorang hamba dekat dengan Allah, penuh bergantung dan mengharap pada rahmat dan pemberian dari-Nya. Dalam al-Quran, Allah suruh kita meminta kepada-Nya, nescaya Dia akan perkenankan.
19. Berikhtiar sehabisnyaSiapa berusaha, dia akan dapat. Ini sunnatullah. Dalam satu hadis sahih dikatakan bahawa Allah berikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tapi agama hanya Allah beri kepada orang yang dicintai-Nya saja. (Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim) Bagi orang beriman, tentulah dia perlu mencari sebab-sebab yang boleh membawa kepada murah rezeki dalam skop yang luas. Misalnya, hendak tenang dibacanya Quran, hendak dapat anak yang baik dididiknya sejak anak dalam rahim lagi, hendak sihat dijaganya pemakanan dan makan yang baik dan halal, hendak dapat jiran yang baik dia sendiri berusaha jadi baik, hendak rezeki berkat dijauhinya yang haram, dan sebagainya.
20. Bertawakal Dengan tawakal, seseorang itu akan direzekikan rasa kaya dengan Allah. Firman-Nya: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, nescaya Allah mencukupkan (keperluannya).” (At-Thalaq: 3) Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)
Kesemua yang disebut di atas adalah amalan-amalan yang membawa kepada takwa. Dengan takwa, Allah akan beri “jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkan), dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas di hatinya.” (At-Talaq: 2-3)
Pendek kata, bagi orang Islam, untuk murah rezeki dalam ertikata yang sebenarnya, kuncinya adalah buat amalan-amalan takwa. Amalan-amalan ini menjadi sebab jatuhnya kasih sayang Allah, lalu Allah limpahi hamba-Nya dengan keluasan rezeki dan rasa kaya dengan pemberian-Nya.
Koleksi ANIS

Rabu, 05 Maret 2008

PEMIKIRAN SALAFI


Yang dimaksud dengan "Pemikiran Salafi" di sini ialah kerangka berpikir(manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummatini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengansetia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur'an dan tuntunan Nabi SAW.Kriteria Manhaj Salafi yang BenarYaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :Berpegang pada nash-nash yang ma'shum (suci), bukan kepada pendapat paraahli atau tokoh.Mengembalikan masalah-masalah "mutasyabihat" (yang kurang jelas) kepadamasalah "muhkamat" (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yangzhanni kepada yang qath'i.Memahami kasus-kasus furu' (kecil) dan juz'i (tidak prinsipil), dalamkerangka prinsip dan masalah fundamental.Menyerukan "Ijtihad" dan pembaruan. Memerangi "Taqlid" dan kebekuan.Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan menirutrend.Dalam masalah fiqh, berorientasi pada "kemudahan" bukan "mempersulit".Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukanmenakut-nakuti.Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan denganperdebatan.Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.Menekankan sikap "ittiba'" (mengikuti) dalam masalah agama. Danmenanamkan semangat "ikhtira'" (kreasi dan daya cipta) dalam masalahkehidupan duniawi.Inilah inti "manhaj salafi" yang merupakan khas mereka. Dengan manhajinilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek.Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur'andan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah.Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur'an kepada generasisesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan(futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan"negara ilmu dan Iman". Membangun peradaban robbani yang manusiawi,bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.Citra "Salafiah" Dirusak oleh Pihak yang Pro dan KontraIstilah "Salafiah" telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dankontra terhadap "salafiah". Orang-orang yang pro-salafiah - baik yangsementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yangsebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalamskop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentudalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dangarang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalammasalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesanbagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda "debat" dan"polemik", bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankanbahwa yang dimaksud dengan "Salafiah" ialah mempersoalkan yangkecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkankhilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati.Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini "terbelakang",senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. FahamSalafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini danmasa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengarsuara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikankreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki danpenyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalammendakwahkan "salafiah" dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialahSyaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Merekainilah orang yang paling pantas mewakili gerakan"pembaruan Islam" padamasa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakupseluruh disiplin ilmu Islam.Mereka telah menumpas faham "taqlid", "fanatisme madzhab" fiqh dan ilmukalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selamabeberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi"ashobiyah madzhabiyah" ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhabdan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihatdalam risalah "Raf'l - malaam 'anil - A'immatil A'lam" karya IbnuTaimiyah.Demikian gencar serangan mereka terhadap "tasawuf" karenapenyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya.Khususnya di tangan pendiri madzhab "Al-Hulul Wal-Ittihad" (penyatuan).Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yangmenyalahgunakan "tasawuf" untuk kepentingan pribadinya. Namun, merekamenyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawufyang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkanwarisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari "Majmu'Fatawa" karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapakarangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah "Madarijus Salikin syarahManazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in", dalamtiga jilid.Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan MerekaYang pelu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berartisekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalahsuatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salafdalam masalah yang juz'i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkanmanhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana jugamungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwadan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat danijtihad mereka.Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam IbnuTaimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secaraglobal dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harusmengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti sayatelah terperangkap dalam "taqlid" yang baru. Dan berarti telah melanggarmanhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksakarenanya. Yaitu manhaj "nalar" dan "mengikuti dalil". Melihat setiappendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya andaprotes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik,jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-QoyyimJuga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisiilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lainyang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisiRobbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata:"Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata,kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan,pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia".Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: "Apayang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagikumerupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasinganbagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid".Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikianpula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yangmembaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.Namun, orang seringkali melupakan, sisi "dakwah" dan "jihad" dalamkehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalambeberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itupenuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalampenjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya didalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna "Salafiah" yangsesungguhnya.Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yangpaling menonjol mendakwahkan "salafiah", dan paling gigihmempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi"salafiah", ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah "Al-Manar'yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa "bendera" salafiahini, menulis Tafsir "Al-Manar" dan dimuat dalam majalah yang sama, yangtelah menyebar ke seluruh pelosok dunia.Rasyid Ridha adalah seorang "pembaharu" (mujaddid) Islam pada masanya.Barangsiapa membaca "tafsir"nya, sperti : "Al-Wahyu Al-Muhammadi","Yusrul-Islam", "Nida' Lil-Jins Al-Lathief", "Al-Khilafah", "MuhawaratAl-Mushlih wal-Muqollid" dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akanmelihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan "Manar"(menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern.Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran "salafiah"nya.Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah "emas" yang terkenal danbelakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :"Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan marikita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat."Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yangmeng-klaim dirinya sebagai "pengikut Salaf".(disalin dari buku "Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah AlQodimah" karya Dr.Yusuf Al Qardhawi)

Minggu, 02 Maret 2008

Tiada Taubat Tanpa Penyesalan


Sebagaimana pentingnya rukun Wuquf di Arafah bagi para hujjaj di kemuncak ibadah haji, maka begitulah pentingnya An Nadam di dalam sebuah taubat. Tanpa wuquf tiadalah haji seperti ungkapan hadis nabi saw: “Haji itu Arafah”. Begitulah juga sifirnya. An Nadam itu ertinya Penyesalan. Ia merupakan rukun terpenting di dalam taubat. Tanpa An Nadam tiadalah At taubah.
Sabda Nabi saw: “ Penyesalan itu adalah taubat”. (Riwayat Al Hakim dan Ibnu Majah - sanad sahih)Kenapa kita perlu sangat mewar-warkan soal penyesalan ini? Jawapannya kerana ia memang sangat perlu. a. Ia menjadi modal utama bagi setiap hamba untuk melengkapkan kesempurnaan sesebuah taubat yang akan dipersembahkan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Imam Al Qusyairi rahimahullahu Ta’ala menukilkan dari sebahagian ulama satu kenyataan yang berbunyi: “penyesalan sudah memadai untuk terlaksananya taubat”. Apa tidaknya. Dari penyesalan yang bersungguh-sungguhlah nanti akan menumbuhkan buah ‘keazaman’ dan ‘peninggalan’, iaitu dua rukun lain yang bakal menyusul sesudahnya.
Amat mustahil sekali sekiranya seseorang yang sudah ‘benar-benar menyesal’, berazam tetap mahu melakukan semula perkara yang sudah disesalinya itu.
b. Penyesalan adalah perasaan atau pun emosi batiniah (rohaniah) seseorang yang menggambarkan kekecewaan lantaran keterlanjurannya melakukan dosa sama ada terhadap Allah(Penciptanya), atau makhluk-Nya atau pun terhadap dirinya sendiri.
Baca dan renungilah perjalanan taubat orang-orang yang soleh dan bertaqwa kepada Allah swt. Apa yang mereka ungkapkan. “Kekecewaan itu adalah umpama api yang membakar hati. Hati akan rasa tersalai setiap kali mengenangkan dosa dan keterlanjuran diri serta balasan Allah yang bakal menanti”.
Kisah taubat tiga sahabat Nabi saw yang diabadikan dalam Al Quran cukup mengharu dan meruntun hati kita. Pemaparan yang sungguh indah lagi menarik.
Itulah kisah tiga sahabat yang tidak ikut serta bersama Nabi saw dalam perperangan Tabuk (pertemuan pertama Rasulullah saw dengan kuasa besar ketika itu iaitu Rom). Ketiga-tiga sahabat ini tidak datang menemui Rasulullah saw untuk menyatakan keuzuran ‘palsu’ seperti yang dilakukan sebahagian para munafiqin. Lalu rasulullah saw memerintahkan supaya mereka dipulaukan hingga datang keputusan dari Allah swt. Penyesalan dan kekecewaan mereka akhirnya mencapai tahap yang amat tinggi.
Al Quran menggambar kesengsaraan jiwa mereka itu seperti berikut: “Dan, terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pula (terasa) sangat sempit serta mereka telah mengetahui bahawa tidak ada tempat lain dari (seksaan) Allah, melainkan kepadaNya, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (At Taubah ayat 118).
Ahli sufi terkenal, Zunnun Al Misri berkata: “Hakikat taubat ialah kamu merasakan bumi yang luas ini menjadi sempit sehinggakan kamu terasa tidak dapat berdiri”.
Begitulah gambaran penyesalan yang sepatutnya berlaku di dalam taubat kita. Barulah dosa kita benar-benar akan terampun di sisi Allah swt. Sesal dulu berpendapatan, sesal kemudian tidak berguna lagi.
Koleksi ANIS/ Olej Rozana Hamim